KEJAYAAN IRAK DALAM KENANGAN (1)

Perang Irak Resmi Berakhir,Rabu (1 September 2010). Selasa malam di Kantor Oval, Gedung Putih, Washington DC AS, Presiden AS Barrack Obama mengumumkan secara resmi berakhirnya misi perang di Irak dalam sebuah pidato yang disiarkan langsung di televisi. Bagaimana pun setelah AS menginvasi Irak sebagai negara berdaulat, 7,5 tahun silam, kejayaan Irak sebagai negara yang diperhitungkan di Timur Tengah porak poranda. Sejauh mana perkembangan Irak sebelum di invasi? Saya mencoba mengetengahkannya dengan mengutip buku saya: Saddam Hussein Menghalau Tantangan (Jakarta:PT.Penebar Swadaya,1998) secara bersambung dengan judul: KEJAYAAN IRAK DALAM KENANGAN (I) . Semoga bermanfaat.

PRAKATA

Ide penulisan buku ini bersumber dari perjalanan saya pada akhir Desember 1992, di mana waktu itu saya diundang Pemerintah Irak untuk melihat-lihat perkembangan negara tersebut usai Perang Teluk II antara Irak dengan Amerika Serikat dan Sekutunya.

Sebagai seorang wartawan waktu itu, undangan dari Kementerian Penerangan Irak sudah tentu melegakan, karena bagaimana pun juga, seusai Perang Teluk II, informasi mengenai negara tersebut sangat kurang, bahkan kalaupun ada, sangat bertentangan dengan kenyataan.

Persoalan mendasar Irak adalah mengenai Embargo Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterapkan berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No.661 yang dikeluarkan pada tanggal 6 Agustus 1990, tentang embargo perdagangan. Dikeluarkannya Resolusi tersebut sangat dirasakan oleh rakyat Irak. Lebih-lebih setelah adanya pemberlakuan Zona Larangan Terbang sepanjang garis paralel 36 di Utara dan Selatan Irak. Pemberlakuan Zona Larangan Terbang tersebut membuat semua orang, siapa pun dia, baik pejabat tinggi maupun rendah, bila ingin berkunjung ke Irak harus melalui jalan darat melalui jalan satu-satunya dari Jordania.

Jarak yang ditempuh dari Jordania ke Irak melalui jalan darat, secara keseluruhan 885 kilometer yang ditempuh lebih kurang sekitar 13 jam.

Perkembangan terakhir tentang Irak waktu itu adalah dengan diperiksanya beberapa Istana Presiden Irak, Saddam Hussein oleh Tim Inspeksi Komisi Khusus PBB (UNSCOM/United Nations Special Commision). Pemeriksaan di negara merdeka dan berdaulat tersebut bertujuuan untuk mengetahui, apakah Irak menyimpan senjata nuklir atau tidak, sementara di pihak lain banyak negara seperti Israel terutama, terang-terangan tidak mau menandatangani Perjanjian Non-Proliferasi Senjata-senjata Nuklir.

Ketidak adilan yang diterapkan kepada Irak inilah membuat kita juga tertarik untuk memeahmi keberadaan Irak. Sudah tentu Irak yang tidak terlepas dari pemimpin kharismatiknya, Saddam Hussein.

Dasman Djamaluddin

Berikutnya: IRAK,TEMPAT LAHIRNYA PERADABAN MANUSIA

KEJAYAAN IRAK DALAM KENANGAN (2)

IRAK, TEMPAT LAHIRNYA PERADABAN MANUSIA

Irak merupakan sebuah negara Arab berbentuk republik yang merdeka dan berdaulat serta bersifat kerakyatan di Timur Tengah. Wilayahnya meliputi area seluas 438.446 kilometer persegi dengan areal yang dapat ditanami 75.364 kilometer persegi. Terletak di antara garis lintang 37.25 derajat dan 29.5 derajat, serta garis bujur 48.45 derajat dan 38.45 derajat.

Ibukotanya adalah Baghdad, yang berarti "bundar", karena memang bentuk kotanya bundar. Didirikan di masa ahalla Abbasiyah, yang terletak di pinggir sebelah Barat Sungai Tigris.

Di masa lalu, daerah ini disebut Mesopatamia (Yunani: mesos= di tengah-tengah; potamos: sungai) yang berarti "tanah di antara dua sungai", yaitu Sungai Tigris (orang Arab menyebutnya Dejelah) yang mengalir di tengah kota Baghdad, terbentang dari hulu sampai hilir sejauh 1718 kilometer ke Shatt al-Arab di Teluk Persia dan Sungai Euphrate (Arab: Furat), yang mengalir sejauh 2300 kilometer ke Shatt al-Arab. Selanjutnya pada Abad VII, wilayah ini dikenal dengan sebutan Irak, yang berarti "negara yang berakar kuat", baik dilihat dari latar belakang sejarahnya, maupun perannannya dalam peradaban ummat manusia di dunia.

Lembah-lembah di antara kedua sungai ini sangat subur dan menawan. Mesopatamia (kini Irak) adalah negara paling subur dan berlimpah air di Timur Tengah. Negara-negara lain di kawasan itu kebanyakan gurun dan sulit memperoleh air.

Sekarang Irak lebih tepat disebut dengan nama "Negeri Tiga Sungai", karena pada bulan Desember 1992, sungai ketiga bernama "Sungai Saddam" resmi dimanfaatkan. Sungai ini membentang sejauh 565 kilometer, dengan lebar 100 meter pada permukaan dan 50 meter pada dasar. Dalamnya mencapai 40 meter. Sungai yang menjadi kebanggaan bangsa Irak di awal-awal berlangsungnya embargo ekonomi ini, hanya diseleselaikan dalam waktu 180 hari dengan tenaga Bangsa Irak sendiri. Dengan dimanfaatkannya sungai ketiga ini, maka sekitar enam juta Donum atau 250.000 hektar tanah pertanian dapat digarap dan diairi.

Irak adalah negeri berperadaban tinggi. Peninggalan budaya bernilai tinggi ditemukan di gua-gua pegunungan daerah utara dan timur laut, serta di udara terbuka di daerah dataran tinggi sebelah timur dan perbukitan Sahara di sebelah barat.

Di Baghdad dan seluruh Irak terdapat sekitar 10.000 situs arkeologi. Penggalian di tempat-tempat itu sudah berlangsung lebih dari satu abad dan akan terus berlangsung entah sampai kapan.

Penemuan purbakala terbaru yang penting adalah sebuah patung perunggu Hercules setinggi satu meter sedang bersandar pada tongkat yang dihiasi kulit singa. Di kaki patung ada tulisan dalam bahasa Yunani dan Aram (Syria Kuno), memberikan informasi baru tentang raja-raja zaman itu-abad kedua Sebelum Masehi. Penemuan itu membuat orang ingat kembali pada pernyataan beberapa ahli purbakala Irak bahwa Hercules hanyalah nama lain untuk Nergal, dewa Irak Kuno.

Tulisan pertama berasal dari sini, demikian pula kitab undang-undang. Orang Sumeria, Akkadia, Babylonia dan Assyria, semuanya membangun peradaban mereka di negeri ini. Taman Firdaus pun bertempat di Irak - daerah yang disebut Qurna.

Barang-barang purbakala itu tersimpan di Museum Baghdad yang dengan 28 galerinya merupakan museum terbesar di Timur Tengah. Barang-barang peninggalan di museum meliputi jangka waktu 100.000 tahun sampai ke zaman Islam. Dalam satu peti kaca terdapat sebuah batu yang berusia 10.000 tahun. Ada 12 guratan di situ- mungkin alat peninggalan zaman purba. Adalahi beberapa cap yang dipakai orang Sumeria 5.000 tahun yang lalu untuk melegalisasikan dokumen. Sebuah relief abad keseimbilan Sebelum Masehi memperlihatkan upacara jabat tangan antara dua orang.

Sebagian benda purbakala di Museum Irak merupakan reproduksi, inilah yang menimbulkan keprihatinan banyak ahli di negeri ini. Sama halnya dengan yang dialami di banyak negeri, benda-benda yang asli dibawa oleh para penjajah asing atau ahli purbakala asing ke negeri ini mereka. Gerbang Ishtar misalnya, berada di Berlin Timur dan benda-benda lain didimpan di Brithis Museum dan di Museum Universitas Pensylvania, Amerika Serikat.
(Catatan: entahlah bagaimana nasib Museum Baghdad setelah Invasi Amerika Serikat, karena buku ini ditulis sebelum Invasi negara Adidaya itu).

Irak modern salah satu contoh negara makmur dalam pembangunan. Di bidang ilmu pengetahuan dan tekonologi, Irak pun dianggap sebagai pelopor dalam bidang tersebut. Sebagai contoh, sebuah penemuan baru di bidang obat penyakit virus dan kanker telah diperkenalkan oleh penemunya, Dokter Mish'al Hamid Al-Sari ke dunia internasional pada tanggal 11 Agustus 1989, sekaligus mengundang ahli penyakit kanker dunia untuk menyaksikan penemuannya.

Berikutnya: Perang Teluk dan Sikap PBB yang Tidak Adil

Minggu, 02 Desember 2007

Penghargaan dari Saddam Hussein

Harian "Kompas", Sabtu, 15 Agustus 1998
(Kolom Sari Warta Luar Negeri)

Penghargaan untuk Penulis tentang Saddam


Dasman Djamaluddin, penulis buku Saddam Hussein Menghalau Tantangan mendapatkan penghargaan dari Kantor Sekretaris Presiden Republik Irak. Penghargaan itu disampaikan oleh Duta Besar Irak untuk Indonesia, Dr.Sa'doon J. al-Zubaydi, Kamis (13/8) dalam upacara sederhana di Kedutaan Besar Irak, di Jakarta. Dalam penghargaan itu, Irak menyampaikan terima kasih atas simpati dan dukungan terhadap perjuangan Irak.



Harian "Pelita", Jumat, 17 Juli 1998/23 Rabiul Awal 1419 H

Saddam Hussein, Dikagumi Karena Keteguhan Hatinya

NAMA Saddam Hussein mulai terkenal di mata masyarakat internasional setelah terjadinya Perang Teluk I, yang melibatkan Iran dan Irak. Tokoh muda itu, yang usianya baru 42 tahun dengan penampilan yang gagah dan tampan, menjadi presiden Irak, pada 16 Juli 1979. Setahun kemudian meletuslah perang Iran-Irak yang membuat namanya terkenal di seluruh dunia.

Saddam Hussein menjadi lebih terkenal lagi ketika 11 tahun kemudian ia memicu terjadinya Perang Teluk II setelah pasukan Irak menyerbu Kuwait, yang diyakini oleh rakyat Irak sebagai bagian dari wilayahnya. Mula-mula ia banyak disalahpahami dan banyak dikecam. Namun kemudian keadaan berbalik dan simpati kini tertumpah kepadanya.

"Saddam Hussein dikagumi banyak orang di dunia dan dicintai oleh rakyatnya di Irak karena keteguhan hatinya yang tidak pernah goyah," kata Dubes Irak untuk Indonesia, Dr.Saadoun Al-Zubaydi kepada Pelita.

Pemimpin Irak kelahiran desa Tikrit itu sesungguhnyalah penuh dengan teka-teki dan sangat sulit ditebak. Ia acapkali membuat kejutan-kejutan yang bagi kebanyakan orang sulit diterima akal. Namun terbukti kemudian bahwa ia adalah seorang yang sangat cerdas dan selalu saja dapat lolos dari lubang jarum kesulitan yang menimpa negara dan rakyatnya.

Sejak Agustus delapan tahun lalu Irak dijatuhi sanksi ekonomi oleh PBB. Banyak kalangan meramalkan Saddam Hussein akan tumbang seiring dengan timbulnya kesulitan ekonomi di dalam negeri. Sanksi ekonomi di mana pun akan menjadi senjata ampuh untuk menjatuhkan suatu pemerintahan negara. Dalam keadaan sulit biasanya timbul gejolak dan pemberontakan.

Irak merupakan negara yang acapkali dilanda pemberontakan di masa lalu, sebelum Partai Baath berkuasa. Namun kenyataan menunjukkan hal berbeda. Saddam Hussein terus bertahan dengan kokoh dan selalu tegar menghadapi berbagai ancaman asing. Dalam keadaan sulit justru ia berhasil menyatukan rakyatnya. Ia justru semakin dicintai dan dikagumi rakyatnya. Dalam pawai-pawai untuk mendukung pemerintah Irak dan mengutuk agresi asing acapkali terdengar teriakan-teriakan Bir ruh wad dam nafdik ya Saddam, yang artinya "dengan nyawa dan darah kami selalu membelamu hai Saddam.

Kesetiaan rakyat Irak terhadapnya itu dibuktikan ketika dalam pemilihan umum tahun 1996 lalu hampir 100 persen penduduk Irak memberikan dukungan kepada pemerintahnya.

Di dunia Arab terdapat pepatah man jadda wajada, barang siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Pepatah itu tampaknya berlaku bagi Saddam Hussein, seorang anak petani miskin yang hanya mengandalkan tekad dan kemauan serta keteguhan hati saja untuk mengubah jalan hidupnya.

Sebuah buku berjudul "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," yang dikarang oleh seorang wartawan Indonesia, Dasman Djamaluddin, memberikan gambaran konkrit mengenai hal tersebut. Buku ini merupakan buku pertama tentang Saddam Hussein yang dikarang oleh seorang Indonesia dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan di Indonesia.

Saddam Hussein dilahirkan di desa Tikrit (170 km sebelah utara Baghdad) pada hari Rabu Pon tanggal 28 April 1937. Satu-satunya yang menonjol dalam diri Saddam sejak kecil adalah keberaniannya yang lebih dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Mungkin hal ini didasarkan pada kondisi hidupnya yang tidak begitu baik. Anak petani itu sejak kecil telah menjadi yatim, dan ayahnya tidak meninggalkan harta yang cukup untuk membiayainya sekolah. Sampai usia 8 tahun Saddam belum mengenal huruf.

Inilah awal dari perjuangan hidupnya yang penuh dengan gelombang dan badai. Dengan bantuan dan dukungan sanak keluarganya akhirnya ia bisa sekolah sampai sekolah menengah di Baghdad berkat bantuan pamannya Khairullah Talfah, seorang opsir yang membenci penjajah Inggris dan kemudian ditahan karena ikut serta dalam revolusi tahun 1941.

Khairullah bukan satu-satunya keluarga Saddam yang dipenjarakan penjajah Inggris. Barangkali karena itulah sejak kecil telah tertanam kebencian kepada penjajahan terutama Inggris dalam diri pemimpin Irak itu. Hal itu pulalah mungkin yang mendorongnya menginvasi Kuwait, di samping alasan-alasan lainnya, yang menjadi basis kekuatan asing yang dikhawatirkan akan dijadikan pangkalan untuk menyerang Irak.

Sejak usia muda Saddam keluar masuk penjara gara-gara perjuangannya melawan penjajah Inggris dan menentang pemerintahan yang tidak adil. Misalnya pada tahun 1959, ketika berusia 22 tahun, Saddam ditahan penjajah Inggris karena dituduh memberontak dan terlibat pembunuhan pejabat penjajah. Namun alasannya yang utama adalah politis. Dalam tahanan Saddam bertemu dengan teman-teman seperjuangannya. Setelah terbukti tak bersalah, ia dibebaskan.

Hal itu membuatnya makin matang. Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan para pejuang untuk menggulingkan diktator Mayor Jendral Abdul Kareem Qassim. Namun gagal. Saddam tertembak dan mengalami luka-luka di kakinya. Dalam kondisi seperti itulah Saddam melarikan diri ke Suriah dan kemudian ke Mesir, di mana ia meneruskan sekolahnya sampai ke Fakultas Hukum di Universitas Cairo.

Pada 14 Oktober 1964 Saddam, yang pada waktu itu berusia 27 tahun ditahan lagi oleh pemerintah Presiden Kolonel Aref, pengganti Jendral Abdul Kareem Qassim. Sikap dan pendiriannya yang teguh membuatnya mendapat simpati dari para petugas keamanan yang menginterogasinya. Ia berhasil melarikan diri pada tahun 1965.

Sampailah akhirnya pada suatu momentum penting lahirnya revolusi 17 Juli 1968, ketika sebuah kelompok militer pimpinan Ahmed Hassan Al-Bakr dan kelompok sipil pimpinan Saddam Hussein merebut kekuasaan dari Kolonel Aref. Ahmed Hassan Al-Bakr menjadi presiden Irak dan sejak itu praktis Saddam Hussein ditunjuk sebagai Wakil Presiden Dewan Komando Revolusi di samping jabatannya sebagai Wakil Sekjen Partai Baath. Sebelas tahun kemudian Saddam Hussein menjadi presiden Irak sampai sekarang.

Tantangan utama bagi Presiden Saddam Hussein sekarang adalah bagaimana membebaskan Irak dan rakyatnya dari cengkeraman sanksi PBB yang tidak adil itu, yang dijatuhkan sejak delapan tahun lalu menyusul penyerbuan Irak ke Kuwait.

Perangkat utama pemberlakuan sanksi itu adalah Komisi Khusus PBB (UNSCOM). Komisi khusus ini bertugas melucuti senjata penghancur massal Irak. Jika komisi itu merekomendasikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa Irak terbebas dari senjata senjata terlarang, maka DK PBB akan mencabut sanksi-sanksi itu.

Tetapi dalam prakteknya acapkali terjadi pertikaian yang tidak relevan antara UNSCOM dan pemerintah Irak, karena pemerintah Irak menuduh UNSCOM bertindak tidak sesuai mandat PBB dan mengabdi pada kepentingan kekuatan-kekuatan tertentu. Jika komisi itu jujur dan taat asas sesuai dengan tugas-tugas teknis yang diembannya, seharusnya masalah tersebut sudah selesai beberapa tahun lalu.

Sanksi-sanksi tersebut telah banyak meminta korban rakyat Irak, terutama di kalangan kaum wanita dan anak-anak balita. Mereka kekurangan gizi yang membuat kondisi kesehatan merosot dan menyebabkan bertambahnya tingkat kematian. Kasus kematian mencapai 364.022 orang antara Agustus 1990 sampai Maret 1994 dan kasus kekurangan gizi meningkat jadi 4.192.003 jiwa dalam periode yang sama.

Bagi rakyat Irak, dan masyarakat internasional juga menilai, korban akibat sanksi-sanksi ekonomi yang tidak adil itu lebih besar dari pada perang Teluk 1991. Sampai kapan kekejaman dan ketidakadilan ini akan berlangsung, hanya Tuhan yang tahu.***


Harian "Sangsaka" Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2005

PENGADILAN SADDAM HUSSEIN

Etnis Kurdi Jadi Masalah
di Iran, Suriah dan Turki


Baghdad, Sang Saka - Pengadilan yang disebut "pengadilan abad ini," yang mengadili mantan Pemimpin Irak Saddam Hussein berlangsung, Rabu (19/10) di sebuh tempat di Baghdad yang disebut dengan Zona Hijau, sebuah tempat khusus yang dibuat sebagai tempat pengadilan dan dijaga super ketat untuk mengantisipasi serangan pengikut setia Saddam Hussein.

Dalam sejarah, baru pertama kali pemimpin di negara Arab diadili atas serangkaian kejahatan atas rakyatnya sendiri. Saddam Hussein diadili hampir dua tahun setelah ditangkap di Tikrit, kota kelahirannya. Bersama dengan Saddam, tujuh terdakwa lainnya adalah Barazan Ibrahim (Kepala Intelijen Irak dan saudara tiri Saddam), Taha Yassin Ramadan (mantan Wakil Presiden Irak), Awad Hamed al-Bandar (Ketua Pengadilan Revolusioner Irak), Abdullah Kazim Ruwayyid (pejabat Baath Dujail), Ali Dayim Ali (pejabat Baath Dujail), Mohammad Azawi Ali (pejabat Baath Dujail) dan Mizhar Abdullah Ruwayyid (pejabat Bath Dujail).

Saddam Hussein yang mengenakan jas abu-abu hitam dengan kemeja putih itu duduk sendiri di urutan paling depan . Sementara para terdakwa lainnya berpencar di belakang Saddam dan terpisahkan pagar pembatas besi.

Begitu sidang dibuka, Hakim Ketua Rizgar Mohammad Amin yang berasal dari etnis Kurdi menanyakan nama para terdakwa termasuk Saddam Hussein. Ketika ditanya hakim, Saddam menolak menyebutkan namanya. Bahkan, Saddam tidak mengakui proses pengadilan itu. Saddam hanya menjawab pendek dan menyebut dirinya sebagai "Presiden Irak."

Hakim kembali mengulangi pertanyaan tentang nama, profesi, dan suku asal Saddam beberapa kali. Namun Saddam tetap bersikeras menolak menjawab."Saya tidak mengakui pihak yang memberikan otoritas kepadamu ataupun pihak pelaku agresi karena semua yang berdasarkan pada kebohongan tetaplah kebohongan," kata Saddam.

"Kamu tahu siapa saya. Kamu adalah warga Irak dan kamu tahu betul siapa saya. Saya tidak akan menjawab pertanyaan di tempat yang dianggap pengadilan ini. Siapa kamu? Kamu itu apa ? Invansi ini jelaslah tidak sah. Saya tetap menggunakan hak saya sebagai presiden," sergah Saddam keras.

Dakwaan yang dibacakan dalam sidang pengadilan itu adalah bahwa Saddam Hussein dan para pengikutnya bersalah dengan memerintahkan dan melakukan eksekusi warga Dujail-mayoritas Syiah-setelah ada upaya pembunuhan Saddam di Dujail yang gagal pada tahun 1982. Peristiwa Dujail, sebuah desa Muslim Syiah di utara Baghdad ini menewaskan 143 warga Syiah.

Namun, atas segala dakwaan yang ditujukan kepadanya, Saddam menegaskan dirinya tidak bersalah. "Sekali lagi saya katakan, saya tidak bersalah," ujarnya seusai sidang membacakan dakwaan Saddam.

Sidang akan kembali berlangsung 28 November, untuk mendengarkan pembacaan dari pembela Saddam.

Masalah Kurdi
Tenggang waktu sebulan ini nampaknya akan dipergunakan jaksa penuntut untuk mempersiapkan dakwaan Saddam atas kejahatan lainnya, seperti kasus Operasi Anfal, operasi militer untuk menumpas kelompok perlawanan Kurdi akhir 1980-an yang menewaskan sedikitnya 180.000 warga Kurdi. Selain itu juga kasus tewasnya 5.000 warga Kurdi akibat serangan gas beracun tahun 1988 di Halabja (di Kurdistan bagian Irak). Kasus ini membutuhkan saksi mata dan pengumpulan bukti yang lebih banyak dan lebih rumit.

Peristiwa di Halabja berkaitan erat dengan Perang Irak-Iran. Irak menjatuhkan bom gas beracun yang berpenduduk Kurdi, yang baru saja ditaklukkan oleh Iran berkat bantuan gerilyawan Kurdi. Dalam beberapa menit saja, beratus-ratus orang yang tak berdosa mati. Tindakan ini adalah suatu peringatan bahwa Irak memiliki kekuasaan untuk menggunakan senjata kimia yang sama untuk menghantam Teheran, sehingga bukan ratusan melainkan ribu an orang akan mati.

Hal yang menarik sebelum sidang ini berlangsung adalah diselenggarakannya upacara di Bandara Arbil Irak, Senin (17/10) untuk menghormati sekitar 7.500 jenazah suku Kurdi Barzaini yang dibunuh dan dikuburkan secara massal di perbatasan Irak-Arab Saudi dipulangkan ke Arbil untuk dikebumikan kembali.

Permasalahan etnis Kurdi bukan hanya masalah Irak, tetapi juga masalah ketiga negara di Timur Tengah yang lainnya itu yang langsung berbatasan dengan Irak, maka di dalam sejarah, Turki selalu paling radikal dalam menghancurkan identitas nasional bangsa Kurdi.

Siapa Saddam Hussein ?
Di dalam buku : "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," yang ditulis oleh wartawam Sang Saka Dasman Djamaluddin dan memperoleh penghargaan dari Kantor Sekretaris Pers Presiden Republik Irak pada tanggal 24 Juni 1998, halaman 18 s/d 22 menyebutkan bahwa Saddam Hussein sejak kecil telah memiliki sikap berani.

Hal ini mungkin dilatarbelakangi kehidupan masa lalunya yang penuh dengan penderitaan dan perjuangan hidup. Karena ketika lahir pada hari Rabu Pon 28 April 1937, di Desa Tikrit (170 km utara Baghdad), ia sudah menjadi anak yatim, karena ayahnya tidak meninggalkan harta yang cukup, begitu pula untuk membiayai sekolahnya. Tidak heran bila pada usia delapan tahun, Saddam Hussein belum mengenal huruf.

Dalam tahun 1965, ketika masih di penjara, Saddam Hussein terpilih sebagai anggota Komando Nasional Partai Sosialis Baath Arab. Pada tanggal 23 Juli 1966, Saddam berhasil melarikan diri dari penjara.

Pada 17 Juli 1968, Saddam memimpin serangan terhadap Istana Kepresidenan menggulingkan rezim reaksioner terbelakang, di mana ia mengemudikan tank pertama yang mengepung pusat kekuasaan. Revolusi berhasil pada hari itu juga, akhirnya pada 16 Juli 1979 Saddam terpilih sebagai Presiden Irak. (dsn).