Harian "Kompas", Sabtu, 15 Agustus 1998
(Kolom Sari Warta Luar Negeri)
Penghargaan untuk Penulis tentang Saddam
(Kolom Sari Warta Luar Negeri)
Penghargaan untuk Penulis tentang Saddam
Dasman Djamaluddin, penulis buku Saddam Hussein Menghalau Tantangan mendapatkan penghargaan dari Kantor Sekretaris Presiden Republik Irak. Penghargaan itu disampaikan oleh Duta Besar Irak untuk Indonesia, Dr.Sa'doon J. al-Zubaydi, Kamis (13/8) dalam upacara sederhana di Kedutaan Besar Irak, di Jakarta. Dalam penghargaan itu, Irak menyampaikan terima kasih atas simpati dan dukungan terhadap perjuangan Irak.
Harian "Pelita", Jumat, 17 Juli 1998/23 Rabiul Awal 1419 H
Harian "Pelita", Jumat, 17 Juli 1998/23 Rabiul Awal 1419 H
Saddam Hussein, Dikagumi Karena Keteguhan Hatinya
NAMA Saddam Hussein mulai terkenal di mata masyarakat internasional setelah terjadinya Perang Teluk I, yang melibatkan Iran dan Irak. Tokoh muda itu, yang usianya baru 42 tahun dengan penampilan yang gagah dan tampan, menjadi presiden Irak, pada 16 Juli 1979. Setahun kemudian meletuslah perang Iran-Irak yang membuat namanya terkenal di seluruh dunia.
Saddam Hussein menjadi lebih terkenal lagi ketika 11 tahun kemudian ia memicu terjadinya Perang Teluk II setelah pasukan Irak menyerbu Kuwait, yang diyakini oleh rakyat Irak sebagai bagian dari wilayahnya. Mula-mula ia banyak disalahpahami dan banyak dikecam. Namun kemudian keadaan berbalik dan simpati kini tertumpah kepadanya.
"Saddam Hussein dikagumi banyak orang di dunia dan dicintai oleh rakyatnya di Irak karena keteguhan hatinya yang tidak pernah goyah," kata Dubes Irak untuk Indonesia, Dr.Saadoun Al-Zubaydi kepada Pelita.
"Saddam Hussein dikagumi banyak orang di dunia dan dicintai oleh rakyatnya di Irak karena keteguhan hatinya yang tidak pernah goyah," kata Dubes Irak untuk Indonesia, Dr.Saadoun Al-Zubaydi kepada Pelita.
Pemimpin Irak kelahiran desa Tikrit itu sesungguhnyalah penuh dengan teka-teki dan sangat sulit ditebak. Ia acapkali membuat kejutan-kejutan yang bagi kebanyakan orang sulit diterima akal. Namun terbukti kemudian bahwa ia adalah seorang yang sangat cerdas dan selalu saja dapat lolos dari lubang jarum kesulitan yang menimpa negara dan rakyatnya.
Sejak Agustus delapan tahun lalu Irak dijatuhi sanksi ekonomi oleh PBB. Banyak kalangan meramalkan Saddam Hussein akan tumbang seiring dengan timbulnya kesulitan ekonomi di dalam negeri. Sanksi ekonomi di mana pun akan menjadi senjata ampuh untuk menjatuhkan suatu pemerintahan negara. Dalam keadaan sulit biasanya timbul gejolak dan pemberontakan.
Irak merupakan negara yang acapkali dilanda pemberontakan di masa lalu, sebelum Partai Baath berkuasa. Namun kenyataan menunjukkan hal berbeda. Saddam Hussein terus bertahan dengan kokoh dan selalu tegar menghadapi berbagai ancaman asing. Dalam keadaan sulit justru ia berhasil menyatukan rakyatnya. Ia justru semakin dicintai dan dikagumi rakyatnya. Dalam pawai-pawai untuk mendukung pemerintah Irak dan mengutuk agresi asing acapkali terdengar teriakan-teriakan Bir ruh wad dam nafdik ya Saddam, yang artinya "dengan nyawa dan darah kami selalu membelamu hai Saddam.
Kesetiaan rakyat Irak terhadapnya itu dibuktikan ketika dalam pemilihan umum tahun 1996 lalu hampir 100 persen penduduk Irak memberikan dukungan kepada pemerintahnya.
Di dunia Arab terdapat pepatah man jadda wajada, barang siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Pepatah itu tampaknya berlaku bagi Saddam Hussein, seorang anak petani miskin yang hanya mengandalkan tekad dan kemauan serta keteguhan hati saja untuk mengubah jalan hidupnya.
Sebuah buku berjudul "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," yang dikarang oleh seorang wartawan Indonesia, Dasman Djamaluddin, memberikan gambaran konkrit mengenai hal tersebut. Buku ini merupakan buku pertama tentang Saddam Hussein yang dikarang oleh seorang Indonesia dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan di Indonesia.
Saddam Hussein dilahirkan di desa Tikrit (170 km sebelah utara Baghdad) pada hari Rabu Pon tanggal 28 April 1937. Satu-satunya yang menonjol dalam diri Saddam sejak kecil adalah keberaniannya yang lebih dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Mungkin hal ini didasarkan pada kondisi hidupnya yang tidak begitu baik. Anak petani itu sejak kecil telah menjadi yatim, dan ayahnya tidak meninggalkan harta yang cukup untuk membiayainya sekolah. Sampai usia 8 tahun Saddam belum mengenal huruf.
Inilah awal dari perjuangan hidupnya yang penuh dengan gelombang dan badai. Dengan bantuan dan dukungan sanak keluarganya akhirnya ia bisa sekolah sampai sekolah menengah di Baghdad berkat bantuan pamannya Khairullah Talfah, seorang opsir yang membenci penjajah Inggris dan kemudian ditahan karena ikut serta dalam revolusi tahun 1941.
Khairullah bukan satu-satunya keluarga Saddam yang dipenjarakan penjajah Inggris. Barangkali karena itulah sejak kecil telah tertanam kebencian kepada penjajahan terutama Inggris dalam diri pemimpin Irak itu. Hal itu pulalah mungkin yang mendorongnya menginvasi Kuwait, di samping alasan-alasan lainnya, yang menjadi basis kekuatan asing yang dikhawatirkan akan dijadikan pangkalan untuk menyerang Irak.
Sejak usia muda Saddam keluar masuk penjara gara-gara perjuangannya melawan penjajah Inggris dan menentang pemerintahan yang tidak adil. Misalnya pada tahun 1959, ketika berusia 22 tahun, Saddam ditahan penjajah Inggris karena dituduh memberontak dan terlibat pembunuhan pejabat penjajah. Namun alasannya yang utama adalah politis. Dalam tahanan Saddam bertemu dengan teman-teman seperjuangannya. Setelah terbukti tak bersalah, ia dibebaskan.
Hal itu membuatnya makin matang. Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan para pejuang untuk menggulingkan diktator Mayor Jendral Abdul Kareem Qassim. Namun gagal. Saddam tertembak dan mengalami luka-luka di kakinya. Dalam kondisi seperti itulah Saddam melarikan diri ke Suriah dan kemudian ke Mesir, di mana ia meneruskan sekolahnya sampai ke Fakultas Hukum di Universitas Cairo.
Pada 14 Oktober 1964 Saddam, yang pada waktu itu berusia 27 tahun ditahan lagi oleh pemerintah Presiden Kolonel Aref, pengganti Jendral Abdul Kareem Qassim. Sikap dan pendiriannya yang teguh membuatnya mendapat simpati dari para petugas keamanan yang menginterogasinya. Ia berhasil melarikan diri pada tahun 1965.
Sampailah akhirnya pada suatu momentum penting lahirnya revolusi 17 Juli 1968, ketika sebuah kelompok militer pimpinan Ahmed Hassan Al-Bakr dan kelompok sipil pimpinan Saddam Hussein merebut kekuasaan dari Kolonel Aref. Ahmed Hassan Al-Bakr menjadi presiden Irak dan sejak itu praktis Saddam Hussein ditunjuk sebagai Wakil Presiden Dewan Komando Revolusi di samping jabatannya sebagai Wakil Sekjen Partai Baath. Sebelas tahun kemudian Saddam Hussein menjadi presiden Irak sampai sekarang.
Tantangan utama bagi Presiden Saddam Hussein sekarang adalah bagaimana membebaskan Irak dan rakyatnya dari cengkeraman sanksi PBB yang tidak adil itu, yang dijatuhkan sejak delapan tahun lalu menyusul penyerbuan Irak ke Kuwait.
Perangkat utama pemberlakuan sanksi itu adalah Komisi Khusus PBB (UNSCOM). Komisi khusus ini bertugas melucuti senjata penghancur massal Irak. Jika komisi itu merekomendasikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa Irak terbebas dari senjata senjata terlarang, maka DK PBB akan mencabut sanksi-sanksi itu.
Tetapi dalam prakteknya acapkali terjadi pertikaian yang tidak relevan antara UNSCOM dan pemerintah Irak, karena pemerintah Irak menuduh UNSCOM bertindak tidak sesuai mandat PBB dan mengabdi pada kepentingan kekuatan-kekuatan tertentu. Jika komisi itu jujur dan taat asas sesuai dengan tugas-tugas teknis yang diembannya, seharusnya masalah tersebut sudah selesai beberapa tahun lalu.
Sanksi-sanksi tersebut telah banyak meminta korban rakyat Irak, terutama di kalangan kaum wanita dan anak-anak balita. Mereka kekurangan gizi yang membuat kondisi kesehatan merosot dan menyebabkan bertambahnya tingkat kematian. Kasus kematian mencapai 364.022 orang antara Agustus 1990 sampai Maret 1994 dan kasus kekurangan gizi meningkat jadi 4.192.003 jiwa dalam periode yang sama.
Bagi rakyat Irak, dan masyarakat internasional juga menilai, korban akibat sanksi-sanksi ekonomi yang tidak adil itu lebih besar dari pada perang Teluk 1991. Sampai kapan kekejaman dan ketidakadilan ini akan berlangsung, hanya Tuhan yang tahu.***
PENGADILAN SADDAM HUSSEIN
Irak merupakan negara yang acapkali dilanda pemberontakan di masa lalu, sebelum Partai Baath berkuasa. Namun kenyataan menunjukkan hal berbeda. Saddam Hussein terus bertahan dengan kokoh dan selalu tegar menghadapi berbagai ancaman asing. Dalam keadaan sulit justru ia berhasil menyatukan rakyatnya. Ia justru semakin dicintai dan dikagumi rakyatnya. Dalam pawai-pawai untuk mendukung pemerintah Irak dan mengutuk agresi asing acapkali terdengar teriakan-teriakan Bir ruh wad dam nafdik ya Saddam, yang artinya "dengan nyawa dan darah kami selalu membelamu hai Saddam.
Kesetiaan rakyat Irak terhadapnya itu dibuktikan ketika dalam pemilihan umum tahun 1996 lalu hampir 100 persen penduduk Irak memberikan dukungan kepada pemerintahnya.
Di dunia Arab terdapat pepatah man jadda wajada, barang siapa bersungguh-sungguh akan berhasil. Pepatah itu tampaknya berlaku bagi Saddam Hussein, seorang anak petani miskin yang hanya mengandalkan tekad dan kemauan serta keteguhan hati saja untuk mengubah jalan hidupnya.
Sebuah buku berjudul "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," yang dikarang oleh seorang wartawan Indonesia, Dasman Djamaluddin, memberikan gambaran konkrit mengenai hal tersebut. Buku ini merupakan buku pertama tentang Saddam Hussein yang dikarang oleh seorang Indonesia dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan di Indonesia.
Saddam Hussein dilahirkan di desa Tikrit (170 km sebelah utara Baghdad) pada hari Rabu Pon tanggal 28 April 1937. Satu-satunya yang menonjol dalam diri Saddam sejak kecil adalah keberaniannya yang lebih dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Mungkin hal ini didasarkan pada kondisi hidupnya yang tidak begitu baik. Anak petani itu sejak kecil telah menjadi yatim, dan ayahnya tidak meninggalkan harta yang cukup untuk membiayainya sekolah. Sampai usia 8 tahun Saddam belum mengenal huruf.
Inilah awal dari perjuangan hidupnya yang penuh dengan gelombang dan badai. Dengan bantuan dan dukungan sanak keluarganya akhirnya ia bisa sekolah sampai sekolah menengah di Baghdad berkat bantuan pamannya Khairullah Talfah, seorang opsir yang membenci penjajah Inggris dan kemudian ditahan karena ikut serta dalam revolusi tahun 1941.
Khairullah bukan satu-satunya keluarga Saddam yang dipenjarakan penjajah Inggris. Barangkali karena itulah sejak kecil telah tertanam kebencian kepada penjajahan terutama Inggris dalam diri pemimpin Irak itu. Hal itu pulalah mungkin yang mendorongnya menginvasi Kuwait, di samping alasan-alasan lainnya, yang menjadi basis kekuatan asing yang dikhawatirkan akan dijadikan pangkalan untuk menyerang Irak.
Sejak usia muda Saddam keluar masuk penjara gara-gara perjuangannya melawan penjajah Inggris dan menentang pemerintahan yang tidak adil. Misalnya pada tahun 1959, ketika berusia 22 tahun, Saddam ditahan penjajah Inggris karena dituduh memberontak dan terlibat pembunuhan pejabat penjajah. Namun alasannya yang utama adalah politis. Dalam tahanan Saddam bertemu dengan teman-teman seperjuangannya. Setelah terbukti tak bersalah, ia dibebaskan.
Hal itu membuatnya makin matang. Pada tahun yang sama, ia bergabung dengan para pejuang untuk menggulingkan diktator Mayor Jendral Abdul Kareem Qassim. Namun gagal. Saddam tertembak dan mengalami luka-luka di kakinya. Dalam kondisi seperti itulah Saddam melarikan diri ke Suriah dan kemudian ke Mesir, di mana ia meneruskan sekolahnya sampai ke Fakultas Hukum di Universitas Cairo.
Pada 14 Oktober 1964 Saddam, yang pada waktu itu berusia 27 tahun ditahan lagi oleh pemerintah Presiden Kolonel Aref, pengganti Jendral Abdul Kareem Qassim. Sikap dan pendiriannya yang teguh membuatnya mendapat simpati dari para petugas keamanan yang menginterogasinya. Ia berhasil melarikan diri pada tahun 1965.
Sampailah akhirnya pada suatu momentum penting lahirnya revolusi 17 Juli 1968, ketika sebuah kelompok militer pimpinan Ahmed Hassan Al-Bakr dan kelompok sipil pimpinan Saddam Hussein merebut kekuasaan dari Kolonel Aref. Ahmed Hassan Al-Bakr menjadi presiden Irak dan sejak itu praktis Saddam Hussein ditunjuk sebagai Wakil Presiden Dewan Komando Revolusi di samping jabatannya sebagai Wakil Sekjen Partai Baath. Sebelas tahun kemudian Saddam Hussein menjadi presiden Irak sampai sekarang.
Tantangan utama bagi Presiden Saddam Hussein sekarang adalah bagaimana membebaskan Irak dan rakyatnya dari cengkeraman sanksi PBB yang tidak adil itu, yang dijatuhkan sejak delapan tahun lalu menyusul penyerbuan Irak ke Kuwait.
Perangkat utama pemberlakuan sanksi itu adalah Komisi Khusus PBB (UNSCOM). Komisi khusus ini bertugas melucuti senjata penghancur massal Irak. Jika komisi itu merekomendasikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa Irak terbebas dari senjata senjata terlarang, maka DK PBB akan mencabut sanksi-sanksi itu.
Tetapi dalam prakteknya acapkali terjadi pertikaian yang tidak relevan antara UNSCOM dan pemerintah Irak, karena pemerintah Irak menuduh UNSCOM bertindak tidak sesuai mandat PBB dan mengabdi pada kepentingan kekuatan-kekuatan tertentu. Jika komisi itu jujur dan taat asas sesuai dengan tugas-tugas teknis yang diembannya, seharusnya masalah tersebut sudah selesai beberapa tahun lalu.
Sanksi-sanksi tersebut telah banyak meminta korban rakyat Irak, terutama di kalangan kaum wanita dan anak-anak balita. Mereka kekurangan gizi yang membuat kondisi kesehatan merosot dan menyebabkan bertambahnya tingkat kematian. Kasus kematian mencapai 364.022 orang antara Agustus 1990 sampai Maret 1994 dan kasus kekurangan gizi meningkat jadi 4.192.003 jiwa dalam periode yang sama.
Bagi rakyat Irak, dan masyarakat internasional juga menilai, korban akibat sanksi-sanksi ekonomi yang tidak adil itu lebih besar dari pada perang Teluk 1991. Sampai kapan kekejaman dan ketidakadilan ini akan berlangsung, hanya Tuhan yang tahu.***
Harian "Sangsaka" Jakarta, Kamis, 20 Oktober 2005
PENGADILAN SADDAM HUSSEIN
Etnis Kurdi Jadi Masalah
di Iran, Suriah dan Turki
di Iran, Suriah dan Turki
Baghdad, Sang Saka - Pengadilan yang disebut "pengadilan abad ini," yang mengadili mantan Pemimpin Irak Saddam Hussein berlangsung, Rabu (19/10) di sebuh tempat di Baghdad yang disebut dengan Zona Hijau, sebuah tempat khusus yang dibuat sebagai tempat pengadilan dan dijaga super ketat untuk mengantisipasi serangan pengikut setia Saddam Hussein.
Dalam sejarah, baru pertama kali pemimpin di negara Arab diadili atas serangkaian kejahatan atas rakyatnya sendiri. Saddam Hussein diadili hampir dua tahun setelah ditangkap di Tikrit, kota kelahirannya. Bersama dengan Saddam, tujuh terdakwa lainnya adalah Barazan Ibrahim (Kepala Intelijen Irak dan saudara tiri Saddam), Taha Yassin Ramadan (mantan Wakil Presiden Irak), Awad Hamed al-Bandar (Ketua Pengadilan Revolusioner Irak), Abdullah Kazim Ruwayyid (pejabat Baath Dujail), Ali Dayim Ali (pejabat Baath Dujail), Mohammad Azawi Ali (pejabat Baath Dujail) dan Mizhar Abdullah Ruwayyid (pejabat Bath Dujail).
Saddam Hussein yang mengenakan jas abu-abu hitam dengan kemeja putih itu duduk sendiri di urutan paling depan . Sementara para terdakwa lainnya berpencar di belakang Saddam dan terpisahkan pagar pembatas besi.
Begitu sidang dibuka, Hakim Ketua Rizgar Mohammad Amin yang berasal dari etnis Kurdi menanyakan nama para terdakwa termasuk Saddam Hussein. Ketika ditanya hakim, Saddam menolak menyebutkan namanya. Bahkan, Saddam tidak mengakui proses pengadilan itu. Saddam hanya menjawab pendek dan menyebut dirinya sebagai "Presiden Irak."
Hakim kembali mengulangi pertanyaan tentang nama, profesi, dan suku asal Saddam beberapa kali. Namun Saddam tetap bersikeras menolak menjawab."Saya tidak mengakui pihak yang memberikan otoritas kepadamu ataupun pihak pelaku agresi karena semua yang berdasarkan pada kebohongan tetaplah kebohongan," kata Saddam.
"Kamu tahu siapa saya. Kamu adalah warga Irak dan kamu tahu betul siapa saya. Saya tidak akan menjawab pertanyaan di tempat yang dianggap pengadilan ini. Siapa kamu? Kamu itu apa ? Invansi ini jelaslah tidak sah. Saya tetap menggunakan hak saya sebagai presiden," sergah Saddam keras.
Dakwaan yang dibacakan dalam sidang pengadilan itu adalah bahwa Saddam Hussein dan para pengikutnya bersalah dengan memerintahkan dan melakukan eksekusi warga Dujail-mayoritas Syiah-setelah ada upaya pembunuhan Saddam di Dujail yang gagal pada tahun 1982. Peristiwa Dujail, sebuah desa Muslim Syiah di utara Baghdad ini menewaskan 143 warga Syiah.
Namun, atas segala dakwaan yang ditujukan kepadanya, Saddam menegaskan dirinya tidak bersalah. "Sekali lagi saya katakan, saya tidak bersalah," ujarnya seusai sidang membacakan dakwaan Saddam.
Sidang akan kembali berlangsung 28 November, untuk mendengarkan pembacaan dari pembela Saddam.
Dalam sejarah, baru pertama kali pemimpin di negara Arab diadili atas serangkaian kejahatan atas rakyatnya sendiri. Saddam Hussein diadili hampir dua tahun setelah ditangkap di Tikrit, kota kelahirannya. Bersama dengan Saddam, tujuh terdakwa lainnya adalah Barazan Ibrahim (Kepala Intelijen Irak dan saudara tiri Saddam), Taha Yassin Ramadan (mantan Wakil Presiden Irak), Awad Hamed al-Bandar (Ketua Pengadilan Revolusioner Irak), Abdullah Kazim Ruwayyid (pejabat Baath Dujail), Ali Dayim Ali (pejabat Baath Dujail), Mohammad Azawi Ali (pejabat Baath Dujail) dan Mizhar Abdullah Ruwayyid (pejabat Bath Dujail).
Saddam Hussein yang mengenakan jas abu-abu hitam dengan kemeja putih itu duduk sendiri di urutan paling depan . Sementara para terdakwa lainnya berpencar di belakang Saddam dan terpisahkan pagar pembatas besi.
Begitu sidang dibuka, Hakim Ketua Rizgar Mohammad Amin yang berasal dari etnis Kurdi menanyakan nama para terdakwa termasuk Saddam Hussein. Ketika ditanya hakim, Saddam menolak menyebutkan namanya. Bahkan, Saddam tidak mengakui proses pengadilan itu. Saddam hanya menjawab pendek dan menyebut dirinya sebagai "Presiden Irak."
Hakim kembali mengulangi pertanyaan tentang nama, profesi, dan suku asal Saddam beberapa kali. Namun Saddam tetap bersikeras menolak menjawab."Saya tidak mengakui pihak yang memberikan otoritas kepadamu ataupun pihak pelaku agresi karena semua yang berdasarkan pada kebohongan tetaplah kebohongan," kata Saddam.
"Kamu tahu siapa saya. Kamu adalah warga Irak dan kamu tahu betul siapa saya. Saya tidak akan menjawab pertanyaan di tempat yang dianggap pengadilan ini. Siapa kamu? Kamu itu apa ? Invansi ini jelaslah tidak sah. Saya tetap menggunakan hak saya sebagai presiden," sergah Saddam keras.
Dakwaan yang dibacakan dalam sidang pengadilan itu adalah bahwa Saddam Hussein dan para pengikutnya bersalah dengan memerintahkan dan melakukan eksekusi warga Dujail-mayoritas Syiah-setelah ada upaya pembunuhan Saddam di Dujail yang gagal pada tahun 1982. Peristiwa Dujail, sebuah desa Muslim Syiah di utara Baghdad ini menewaskan 143 warga Syiah.
Namun, atas segala dakwaan yang ditujukan kepadanya, Saddam menegaskan dirinya tidak bersalah. "Sekali lagi saya katakan, saya tidak bersalah," ujarnya seusai sidang membacakan dakwaan Saddam.
Sidang akan kembali berlangsung 28 November, untuk mendengarkan pembacaan dari pembela Saddam.
Masalah Kurdi
Tenggang waktu sebulan ini nampaknya akan dipergunakan jaksa penuntut untuk mempersiapkan dakwaan Saddam atas kejahatan lainnya, seperti kasus Operasi Anfal, operasi militer untuk menumpas kelompok perlawanan Kurdi akhir 1980-an yang menewaskan sedikitnya 180.000 warga Kurdi. Selain itu juga kasus tewasnya 5.000 warga Kurdi akibat serangan gas beracun tahun 1988 di Halabja (di Kurdistan bagian Irak). Kasus ini membutuhkan saksi mata dan pengumpulan bukti yang lebih banyak dan lebih rumit.
Peristiwa di Halabja berkaitan erat dengan Perang Irak-Iran. Irak menjatuhkan bom gas beracun yang berpenduduk Kurdi, yang baru saja ditaklukkan oleh Iran berkat bantuan gerilyawan Kurdi. Dalam beberapa menit saja, beratus-ratus orang yang tak berdosa mati. Tindakan ini adalah suatu peringatan bahwa Irak memiliki kekuasaan untuk menggunakan senjata kimia yang sama untuk menghantam Teheran, sehingga bukan ratusan melainkan ribu an orang akan mati.
Hal yang menarik sebelum sidang ini berlangsung adalah diselenggarakannya upacara di Bandara Arbil Irak, Senin (17/10) untuk menghormati sekitar 7.500 jenazah suku Kurdi Barzaini yang dibunuh dan dikuburkan secara massal di perbatasan Irak-Arab Saudi dipulangkan ke Arbil untuk dikebumikan kembali.
Permasalahan etnis Kurdi bukan hanya masalah Irak, tetapi juga masalah ketiga negara di Timur Tengah yang lainnya itu yang langsung berbatasan dengan Irak, maka di dalam sejarah, Turki selalu paling radikal dalam menghancurkan identitas nasional bangsa Kurdi.
Siapa Saddam Hussein ?
Di dalam buku : "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," yang ditulis oleh wartawam Sang Saka Dasman Djamaluddin dan memperoleh penghargaan dari Kantor Sekretaris Pers Presiden Republik Irak pada tanggal 24 Juni 1998, halaman 18 s/d 22 menyebutkan bahwa Saddam Hussein sejak kecil telah memiliki sikap berani.
Hal ini mungkin dilatarbelakangi kehidupan masa lalunya yang penuh dengan penderitaan dan perjuangan hidup. Karena ketika lahir pada hari Rabu Pon 28 April 1937, di Desa Tikrit (170 km utara Baghdad), ia sudah menjadi anak yatim, karena ayahnya tidak meninggalkan harta yang cukup, begitu pula untuk membiayai sekolahnya. Tidak heran bila pada usia delapan tahun, Saddam Hussein belum mengenal huruf.
Dalam tahun 1965, ketika masih di penjara, Saddam Hussein terpilih sebagai anggota Komando Nasional Partai Sosialis Baath Arab. Pada tanggal 23 Juli 1966, Saddam berhasil melarikan diri dari penjara.
Pada 17 Juli 1968, Saddam memimpin serangan terhadap Istana Kepresidenan menggulingkan rezim reaksioner terbelakang, di mana ia mengemudikan tank pertama yang mengepung pusat kekuasaan. Revolusi berhasil pada hari itu juga, akhirnya pada 16 Juli 1979 Saddam terpilih sebagai Presiden Irak. (dsn).
Tenggang waktu sebulan ini nampaknya akan dipergunakan jaksa penuntut untuk mempersiapkan dakwaan Saddam atas kejahatan lainnya, seperti kasus Operasi Anfal, operasi militer untuk menumpas kelompok perlawanan Kurdi akhir 1980-an yang menewaskan sedikitnya 180.000 warga Kurdi. Selain itu juga kasus tewasnya 5.000 warga Kurdi akibat serangan gas beracun tahun 1988 di Halabja (di Kurdistan bagian Irak). Kasus ini membutuhkan saksi mata dan pengumpulan bukti yang lebih banyak dan lebih rumit.
Peristiwa di Halabja berkaitan erat dengan Perang Irak-Iran. Irak menjatuhkan bom gas beracun yang berpenduduk Kurdi, yang baru saja ditaklukkan oleh Iran berkat bantuan gerilyawan Kurdi. Dalam beberapa menit saja, beratus-ratus orang yang tak berdosa mati. Tindakan ini adalah suatu peringatan bahwa Irak memiliki kekuasaan untuk menggunakan senjata kimia yang sama untuk menghantam Teheran, sehingga bukan ratusan melainkan ribu an orang akan mati.
Hal yang menarik sebelum sidang ini berlangsung adalah diselenggarakannya upacara di Bandara Arbil Irak, Senin (17/10) untuk menghormati sekitar 7.500 jenazah suku Kurdi Barzaini yang dibunuh dan dikuburkan secara massal di perbatasan Irak-Arab Saudi dipulangkan ke Arbil untuk dikebumikan kembali.
Permasalahan etnis Kurdi bukan hanya masalah Irak, tetapi juga masalah ketiga negara di Timur Tengah yang lainnya itu yang langsung berbatasan dengan Irak, maka di dalam sejarah, Turki selalu paling radikal dalam menghancurkan identitas nasional bangsa Kurdi.
Siapa Saddam Hussein ?
Di dalam buku : "Saddam Hussein Menghalau Tantangan," yang ditulis oleh wartawam Sang Saka Dasman Djamaluddin dan memperoleh penghargaan dari Kantor Sekretaris Pers Presiden Republik Irak pada tanggal 24 Juni 1998, halaman 18 s/d 22 menyebutkan bahwa Saddam Hussein sejak kecil telah memiliki sikap berani.
Hal ini mungkin dilatarbelakangi kehidupan masa lalunya yang penuh dengan penderitaan dan perjuangan hidup. Karena ketika lahir pada hari Rabu Pon 28 April 1937, di Desa Tikrit (170 km utara Baghdad), ia sudah menjadi anak yatim, karena ayahnya tidak meninggalkan harta yang cukup, begitu pula untuk membiayai sekolahnya. Tidak heran bila pada usia delapan tahun, Saddam Hussein belum mengenal huruf.
Dalam tahun 1965, ketika masih di penjara, Saddam Hussein terpilih sebagai anggota Komando Nasional Partai Sosialis Baath Arab. Pada tanggal 23 Juli 1966, Saddam berhasil melarikan diri dari penjara.
Pada 17 Juli 1968, Saddam memimpin serangan terhadap Istana Kepresidenan menggulingkan rezim reaksioner terbelakang, di mana ia mengemudikan tank pertama yang mengepung pusat kekuasaan. Revolusi berhasil pada hari itu juga, akhirnya pada 16 Juli 1979 Saddam terpilih sebagai Presiden Irak. (dsn).
